Selasa, 10 Februari 2015

Penulisan Kata Ulang, Gabungan, Ganti, Depan, dan Partikel Kata


PENULISAN KATA

Kata Dasar ditulis sebagai satu satuan.
Kata Turunan =
1)      Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
       cotoh: berkesinambungan, dipermainkan, kedua, anjuran
2)      Awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya kalau bentuk dasarnya berupa gabungan kata.
       cotoh: berlepas tangan, sebar luaskan, mendua hati, garis bawahi
3)      Kalau bentuk dasar berupa gabungan kata dan sekaligus mendapat awalan dan akhiran, maka kata-kata itu ditulis serangkai.
cotoh: menggarisbawahi, digarisbawahi, menandatangani, penandatanganan, ketatalaksanaan
4)      Kalau salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
cotoh: amoral, asusila, antarpulau, dasalomba, dwiwarna, internasional, mahasiswa, multinational, 
                   multilateral, prakata, purnawirawan, reinkarnasi, rekonstruksi, telekomunikasi, transmisi,
                   tunaaksara dsb

Catatan:
-        Jika bentuk terikat tersebut diikuti oleh kata yang huruf awalnya huruf besar, maka diantara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung ( - )
cotoh: non-Indonesia, pan-Asia
-        Maha sebagai unsur gabungan kata ditulis serangkai, kecuali jika diikuti oleh kata yang bukan kata dasar.
cotoh: mahatahu, mahakuasa , mahaadil, Tuhan Yang Maha Pengasih, maha Pemurah, maha  
            Penolong, mahamulia, mahasuci, mahaesa


KATA ULANG

Ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung

Ada empat jenis kata ulang yaitu: kata ulang murni, kata ulang berimbuhan, kata ulang berubah bunyi
cotoh:  anak-anak, biri-biri, beras-petas, warna-warni, centang-perenang, menulis-nulis, sayur-sayuran,
             tukar-menukar, sejelas-jelasnya

Penulisan kata ulang dwipurwa tidak menggunakan tanda hubung.
cotoh: lelaki, tetamu, leluhur, tetanaman


GABUNGAN KATA 

a)      Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, bagian-bagiannya umumnya ditulis terpisah.
       cotoh: bapak angkat, duta besar luar biasa, kambing hitam, kereta api cepat luar biasa,  meja tulis,  
                    mata pelajaran, rumah sakit
b)      Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan salah baca, dapat  diberi tanda hubung untuk menegaskan pertalian diantara unsur yang bersangkutan.
cotoh: alat pandang-dengar (TV), alat peraga-baru, anak-istri, suami-istri, watt-jam, ampere-meter, 
                   buku sejarah-baru, dua-sendi, mesin-hitung tangan (kalkulator) dua puluh lima-ribuan 
                   (20x5000 ), dua-puluh-lima-ribuan ( 1X25000 ), istri-guru yang ramah, istri-guru-yang-ramah,
c)       Gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata ditulis serangkai.
cotoh: alhamdulillah, apabila, bagaimana, darmawisata, hulubalang, padahal, olahraga, matahari,
peribahasa, pancalomba, ultramodern, swadaya, pramusaji, syahbandar


KATA GANTI 

ku, kau, mu, nya ditulis serangkai dengan kata yang mengikuti dan mendahuluinya
cotoh: kutanam, kauambil, rumahku, gelasmu, mejanya


KATA DEPAN

di, ke, dari, si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali kata yang sudah dianggap sebagai satu kata seperti kepada, daripada.
cotoh: di Jakarta, di Pekanbaru, dari Pekanbaru, sang guru, sang nasib, si bungsu, si kumis, si terpidana 
            Partikel


PARTIKEL

a)      Partkel lah, kah, tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya
cotoh: apakah, kapankah, apatah (bahasa melayu lama)
b)      Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya
cotoh: Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus
kecuali: pun ditulis serangkai dengan kata, karena sudah dianggap serangkai, dan menjadi kelompok kata
cotoh: adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, kalaupun, sungguhpun, walaupun
c)       Partikel per yang berarti mulai, demi, tiap ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendampinginya.
cotoh: Berapa harga minyak tanah per liter di sini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar